Kuatkan Koalisi menghadapi kaum sayap kanan

March 22, 2007

Pada hari Minggu tanggal 4 Maret 2007 telah terjadi serangan terhadap demokrasi. Yaitu ketika PAPERNAS sedang melakukan konferensi wilayah Jawa Timur, serangan ini dilakukan oleh gerakan sayap kanan yang menyebut namanya sebagai ( Front Anti Komunis ). Sekitar ratusan anggota FAKI melakukan tindakan kekerasan fisik ketika para aktifis PAPERNAS sedang melakukan pertahanan diri dari serangan mereka. Solidaritas kita untuk PAPERNAS sebab demokrasi yang selama ini didengungkan ternyata hanya milik kaum oportunis borjuis politik saja, hak – hak massa untuk berorganisasi telah dikebiri dan sentimen anti komunis masih terus saja menjadi alatnya.

Serangan ini merupakan konteks lain dari represi yang dilakukan oleh negara dan milisi sayap kanan menentang kehadiran kelompok kiri di Indonesia. Beberapa serangan kelompok sayap kanan ini terlihat juga dalam pembubaran diskusi yang diadakan Rumah Kiri mengenai Marxisme di Bandung. Negara bersama milisi sayap kanan beraliansi untuk merespon kekuatan politik progresif yang dibangun oleh pekerja dan gerakan sosial di Indonesia. Dan ini berhubungan dengan menjelangnya pemilu 2009 dimana banyak kekuatan staus quo yang ingin kembali menguasai politik. Gerakan yang dibangun oleh PAPERNAS ini memiliki cabang di 23 propinsi dan disekitar 140 kota.

Serangan terhadap PAPERNAS ini merupakan serangan terhadap seluruh kekuatan progresif dan gerakan sosial. Seluruh pekerja, pelajar, mahasiswa dan organisasi progresif harus membuat manifesto bersama untuk menolak serangan ini dan berjuang untuk tetap menjaga hak – hak demokrasi serta melawan seluruh kekerasan negara dan kaum reaksioner milisi FAKI. Dalam merespon serangan ini, kami peringatkan kepada gerakan pekerja untuk tidak begitu saja percaya terhadap kepolisian dan negara yang terkesan mereka membela hak – hak demokratis. Sebab polisi juga merupakan bagian dari tindakan opresif kapitalisme dan pro terhadap rejim imperialis, polisi Indonesia sangat bahagia dengan serangan terhadap kelompok kiri ini sebab apabila mereka tidak mendukung maka akan mendapat serangan juga. Kiri, pekerja dan gerakan mahasiswa harus secara segera melakukan kampanye organisir melawan kekerasan yang dilakuan oleh milisi sayap kanan dan dalam bagian kampanye ini bangunlah kekuatan independen dan berdasarkan atas kontrol demokratik mebangun milisi pertahanan diri.

JAKARTA TENGGELAM

March 2, 2007

Jakarta telah menjadi sebuah lautan air di awal februari 2007 ini, seluruh penjuru kota dibanjiri oleh luapan air dari sungai – sungai sekitar wilayah Jakarta. Rumah – rumah tenggelam hingga 5 meter, jalan pusat kota dilanda kedalaman air, jalur transportasi putus, listrik mati, air tidak menyala, dan banyak perkantoran libur yang menyebabkan ekonomi lumpuh. Suatu bencana terbesar di tahun ini yang menimpa sebuah ibu kota negara, kota ini menjadi seperti sungai bahkan hampir separuh kota Jakarta penuh dengan air berwarna coklat (cirri khas warna air banjir ). Infrastruktur mati total, hari itu kota Jakarta benar – benar lumpuh. Banyak orang mencari tempat yang lebih aman mereka tinggal di kolong jembatan, diatas flyover, sekolah, gedung tinggi, ataupun daerah –daerah yang aman dari banjir. Ratusan ribu orang mengungsi menjadikan Jakarta sebagai kota bencana terbesar. Setiap sudut jalan di kota ini dipenuhi oleh orang – orang yang akan meninggalkan wilayahnya pada saat kejadian tersebut, orang tua, anak – anak, kaum muda, orang miskin kota, dan masyarakat lainnya berjalan menyusuri jalan – jalan kota yang dikelilingi air. Setiap wilayah Jakarta seluruhnya digenangi air hingga 2 meter bahkan ada yang mencapai 5 meter, ini suatu pemandangan yang sangat luar biasa. 80 orang tewas akibat berbagai macam sebab ada yang terseret arus banjir, kena aliran listrik, atau sakit di pengungsian. Jakarta yang disimbolkan sebagai ibukota dan memiliki banyak sekali perusahaan kapitalisme pada februari tahun ini tidak dapat berkata apa – apa. Yang tersisa hanyalah puing – puing bekas bangunan rumah yang terseret oleh luapan arus banjir, dan biaya pembangunan yang sangat mahal.

Birokrasi pemerintahan Jakarta sibuk mencari kambing hitam kepada orang miskin kota mereka menyalahkan rumah dipinggir sungai penyebab banjir, kemudian melempar tanggung jawab kepada pihak lain. Gubernur Jakarta Sutiyoso bahkan mengatakan semua ini dikarenakan urbanisasi ia menyalahkan karena banyaknya manusia yang menumpuk dijakarta, sungguh ini merupakan pernyataan yang rasis dari seorang gubernur. Karena setiap orang mempunyai hak untuk tinggal di kota Jakarta, dalam wawancara diberbagai televisi gubernur bukannya memberikan arahan untuk bantuan tetapi malah menunjukkan proyek banjir kanal timur yaitu pembuatan saluran sungai baru untuk mencegah banjir dan proyek ini kemungkinan akan mengalami masalah karena jutaan perumahan pinggir sungai yang mayoritas ditinggali oleh kaum miskin kota akan digusur secara paksa. Dan penggusuran ini pasti akan melibatkan aparat negara seperti pol pp, polisi, dan kodim ini memicu bentrokkan baru antar masyarakat dengan aparat. Walaupun rencananya akan diganti oleh rumah susun bagi rakyat miskin tapi saya masih kurang yakin apakah biayanya bisa terjangkau karena pasti mahal.

Pembangunan di Jakarta selama ini hanya diprioritaskan untuk industri kapitalisme, mulai dari gedung tinggi, supermarket, mall, perumahan, sampai ke taman kota semua ini dilakukan bukan untuk kesejahteraan rakyat tetapi lebih kepada modal yang masuk. Bahkan transportasi umum seperti busway, subway, monorel dan pembangunan tata kota untuk transportasi juga berdasarkan industri kapitalisme juga. Dimana kepentingan keuntungan ekonomi menjadi tujuan utama dari pembangunan ibukota dan sangat tidak peduli dengan keadaan ekosistem ataupun lingkungan hidup yang mengandung resapan air. Pemerintah lokal juga tidak memikirkan nasib kaum miskin kota yang selalu terpinggirkan dalam pembangunan, orang miskin dibiarkan hidup liar tanpa jaminan dari pemerintah dan selalu menyalahkan orang – orang tersebut sebagai biang keladi dari kumuhnya kawasan ibukota.

Banjir yang dialami kota Jakarta saat ini juga meninggalkan permasalahan baru yaitu jumlah pengangguran yang meningkat dan tingkat produktivitas kerja yang tersedot, karena sekitar ratusan pabrik di Jakarta dan sekitarnya tenggelam oleh air banjir dan beberapa pabrik tutup karena peralatannya rusak terkena air banjir. Disini kita lihat bagaimana kelas pekerja juga mengalami kesulitan untuk bekerja karena pabrik – pabrik tersebut ada yang tidak beroperasi. Kembali pemerintah tidak bisa menjawab ini hanya satu pernyataan yang keluar yaitu “ masyarakat masih dapat tersenyum” sungguh ini merupakan pernyataan yang melemahkan kekuatan masyarakat dan pekerja. Biar bagaimana pun pekerja harus terus memiliki kekuatan untuk mengambil alih segala macam bentuk alat produksi yang telah rusak karena banjir. Biar kekuatan pekerja dan masyarakat miskin kota lah yang mengontrol untuk kemenangan SOSIALISME di Indonesia…..


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.